Bagi sebagian orang tua zaman now, pesantren itu punya fungsi ganda yang ajaib. Selain tempat belajar mengaji, lembaga ini sering kali dianggap seperti bengkel ketok magic atau tempat servis motor turun mesin. Begitu anak di rumah mogok diatur, kecanduan game online, atau mulai bergaul sama bocah-bocah pencuri jemuran, solusi instan yang keluar dari mulut orang tua biasanya seragam: “Sini kamu, tak masukkan pesantren biar kapok!”.
Sungguh sebuah pola pikir yang sangat “bebas tanggung jawab”. Pesantren, yang sejak ratusan tahun lalu didirikan sebagai laboratorium kepemimpinan dan pusat transmisi ilmu-ilmu luhur, mendadak diturunkan kastanya menjadi penampungan anak-anak bermasalah. Kiai dan ustaz yang menghabiskan umurnya membaca kitab kuning belasan jilid, dipaksa beralih profesi menjadi petugas keamanan penjinak anak nakal.
Mari kita jujur-jujuran. Memasukkan anak ke pesantren dengan narasi “biar kapok” atau “biar dihukum” itu adalah bentuk intimidasi terselubung. Sejak hari pertama melangkah ke gerbang pondok, si anak sudah merasa dirinya adalah “barang rusak” yang sedang dibuang oleh orang tuanya sendiri. Alih-alih pengin belajar dengan ikhlas, yang ada di kepala mereka adalah bagaimana caranya bertahan hidup di pengasingan atau menyusun rencana melompati pagar pondok di sepertiga malam.
Fenomena ini juga tidak adil bagi santri-santri lain yang masuk pesantren dengan niat suci: murni ingin menuntut ilmu, nyantri, dan mengabdi. Bayangkan, anak-anak yang pengin fokus hafalan Al-Qur’an atau mendalami kitab Fathul Qorib harus terganggu karena sekamar dengan anak yang masuk pondok gara-gara ketahuan bolos sekolah demi main Mobile Legends tiga hari tiga malam.
Pesantren itu ekosistem pendidikan, bukan lembaga pemasyarakatan (Lapas) anak. Keberhasilan seorang anak menjadi saleh dan berkarakter di pondok bukan karena ruangannya punya kekuatan magis yang bisa mengubah watak dalam semalam. Keberhasilan itu lahir dari kesiapan mental si anak, keikhlasan orang tua saat melepasnya, dan keteladanan dari para guru. Kalau dari rumah niatnya sudah keliru—menjadikan pesantren sebagai tempat pelarian dari kegagalan pola asuh (parenting) orang tua—jangan kaget kalau beberapa bulan kemudian kiai-nya angkat tangan.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang ini. Masukkanlah anak ke pesantren karena kita ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih mulia, berilmu, dan mandiri, bukan karena kita sudah mati kutu tidak bisa mendidiknya di rumah. Pesantren adalah tempat menempa emas, jangan jadikannya tempat pembuangan rongsokan. Kasihan para kiai, tugas beliau-beliau itu menuntun umat ke surga, bukan membuka jasa reparasi akhlak anak yang telanjur rusak akibat kelalaian kita sendiri.(red/rdp)
