Laju arus informasi di era digital tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi, tetapi juga menguji daya tahan ideologi dan nilai-nilai keagamaan. Di tengah belantara media sosial yang kerap diramaikan oleh narasi ekstremisme, disinformasi, dan ujaran kebencian, santri hadir mengambil peran strategis. Lebih dari sekadar konsumen teknologi, santri kini memikul tanggung jawab moral untuk meneguhkan marwah Nahdlatul Ulama (NU) dan menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin di ruang siber.
Membangun Benteng Aswaja di Ruang Siber
Selama berabad-abad, pesantren menjadi benteng pertahanan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) An-Nahdliyah. Tradisi pengajian kitab kuning, etika ta’zim kepada guru, serta Sanad keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah SAW merupakan modal sosial-keagamaan yang sangat kuat.
Namun, ketika ruang publik bergeser dari majlis taklim fisik ke lini masa media sosial, tantangan baru pun muncul. Narasi-narasi keagamaan yang dangkal dan provokatif sering kali lebih mudah viral dibandingkan kajian mendalam. Di sinilah kiprah santri digital menjadi krusial. Santri dituntut hadir mengisi ruang-ruang kosong media sosial dengan konten yang sejuk, ilmiah, dan berakhlaqul karimah.
BACA JUGA
Dari Bilik Pesantren Menuju Lini Masa
Langkah meneguhkan marwah NU di media sosial dapat diwujudkan melalui beberapa dakwah transformatif para santri:
- Kontekstualisasi Nilai Keagamaan: Membumikan isi kitab kuning dan fatwa-fatwa ulama NU ke dalam format yang relevan dengan kebutuhan generasi muda, seperti infografis, video pendek, dan esai populer.
- Kritik Sosial yang Santun: Menghadapi disinformasi dan narasi keagamaan yang rigid tidak dengan makian, melainkan dengan argumen fikih serta prinsip tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (keadilan), dan tasamuh (toleransi).
- Menebar Keramahan, Bukan Kemarahan: Menjadikan media sosial sebagai cermin wajah Islam Nusantara yang ramah, menghargai budaya lokal, serta merekatkan persatuan bangsa (ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah baswariyah).
Meneguhkan marwah NU di era digital bukanlah tentang meraih popularitas atau jumlah pengikut semata, melainkan tentang ikhtiar merawat amanah keilmuan pesantren. Ketika jemari para santri digerakkan oleh sanad keilmuan yang bersambung dan niat menjaga kemaslahatan umat, maka media sosial bukan lagi ancaman, melainkan ladang khidmah yang luas untuk peradaban.*(red/rdp)
