Home » Pramuka ke-65 di MA Diponegoro: Ketika Dasadarma Bertemu Nilai Khidmah dan Urusan Pangan

Pramuka ke-65 di MA Diponegoro: Ketika Dasadarma Bertemu Nilai Khidmah dan Urusan Pangan

No comments

Setiap tanggal 14 Agustus, setelan kain warna cokelat tua dan cokelat muda mendadak mendominasi jalanan. Mulai dari anak SD yang kacunya masih menjorok ke bawah sampai santri madrasah yang semalam habis simakan Quran, semuanya mendadak jadi “anggota pramuka sejati”. Hari ini, MA Diponegoro juga tidak mau kalah ambil bagian memperingati Hari Pramuka ke-65.

Bukan sekadar formalitas biar kacu yang disetrika semalaman tidak mubazir, tapi ada refleksi tipis-tipis soal masa depan—termasuk urusan piring dan perut kita semua.

Dari Tunas Kelapa sampai Urusan Piring

Jujur saja, kalau mendengar kata “Pramuka”, memori kita sering kali langsung melayang ke momen-momen ikonik: tali-temali yang bikin jari keriting, kemah di lapangan yang tanahnya tidak rata, atau momen panik pas jurit malam gara-gara suara angin di pohon bambu.

BACA JUGA

Bapak Fauzan Kepala MA Diponegoro saat memberikan amanat upacara

Tapi tahun ini, tema nasional yang diusung agak berat dan visioner:

“Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.”

Dengar kata “Swasembada Pangan”, mungkin sebagian anak muda bakal membayangkan traktor besar dan sawah berhektar-hektar. Tapi buat para santri di MA Diponegoro, tema ini sebenarnya tidak jauh-jauh amat dari kehidupan sehari-hari.

Di Pramuka kita diajari survival: bagaimana caranya bertahan hidup dengan bahan seadanya, masak air pakai kayu basah, atau bagi-bagi mi instan satu bungkus untuk bertiga. Di madrasah dan pesantren, kita diajari khidmah dan tirakat: belajar mandiri, menghargai sebutir beras, dan memikirkan kemaslahatan orang banyak.

Jadi, kalau hari ini Pramuka bicara soal ketahanan pangan demi Indonesia Emas 2045, santri sebenarnya tinggal melanjutkan tradisi. Bedanya, kalau dulu survival cuma pas Persami, sekarang survival-nya level negara: jaga lingkungan, cintai produk lokal, dan jangan menyia-nyiakan makanan.

Satyaku Kudarmakan, Tirakatku Kubaktikan

Pramuka dan santri itu ibarat dua kawan lama yang klop banget. Dua-duanya sama-sama akrab dengan disiplin, sama-sama tahan banting, dan sama-sama punya semangat mengabdi tanpa tapi.

Dari Pramuka, kita belajar bahwa hidup itu butuh keterampilan praktis dan kemandirian. Dari madrasah, kita belajar bahwa semua keterampilan itu tidak ada gunanya kalau tidak dipakai untuk berkhidmah kepada masyarakat.

Langkah menuju Indonesia Emas 2045 memang masih 19 tahun lagi. Tapi langkah itu dimulai dari hal-hal kecil hari ini: dari barisan upacara yang rapi, dari kesadaran menjaga alam sekitar, dan dari tekad bahwa belajar di madrasah bukan sekadar untuk cari ijazah, tapi untuk memberi manfaat.

Selamat Hari Pramuka ke-65 untuk seluruh anggota Gerakan Pramuka, khususnya keluarga besar MA Diponegoro. Tetaplah jadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan tidak gampang mengeluh—baik saat mendirikan tenda di tengah hujan maupun saat menghadapi ujian semester.

Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan. Salam Pramuka!

+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

MENGENAL PENULIS
R Dipadilaga

R Dipadilaga

Penulis

Penulis aktif di Kanal Santri yang berfokus pada kajian Islam, pendidikan, pesantren, dan pengembangan literasi umat.

12 Artikel Bergabung sejak Juli 2025
Lihat Semua Artikel
Bagikan: