Home » Seni ‘LDR’ Sama Orang Tua: Ketika Rindu dan Air Mata Pelan-Pelan Bikin Santri Jadi Dewasa

Seni ‘LDR’ Sama Orang Tua: Ketika Rindu dan Air Mata Pelan-Pelan Bikin Santri Jadi Dewasa

No comments

Bagi anak rumahan, dipisah jarak berjam-jam dari orang tua itu rasanya mirip seperti kiamat kecil. Tapi bagi santri, “LDR” sama bapak-ibu di rumah adalah kurikulum wajib paling berdarah-darah di minggu pertama, sebelum akhirnya berubah jadi cerita paling manis yang bakal dikenang seumur hidup.

Minggu Pertama: Momen Air Mata dan Drama “Ibu, Jemput Aku!”

Jujur saja, tidak ada santri yang hari pertamanya di pondok langsung berjiwa ksatria. Di minggu pertama, pemandangan anak kelas 7 atau kelas 10 yang melamun di pojokan kamar mandi sambil meratapi nasib adalah hal yang sangat lumrah.

Bahkan, ada hukum tidak tertulis di pesantren: jangan pernah bunyikan lagu sentimental saat sore hari menjelang Magrib. Kenapa? Karena di jam-jam rawan itulah benteng pertahanan santri paling rapuh. Bayangan masakan ibu, kasur empuk di rumah, dan kebebasan memegang remote TV tiba-tiba menyeruak, bikin mata otomatis berkaca-kaca.

BACA JUGA

Pada fase ini, kalimat “Ibu, aku enggak kerasan, jemput aku sekarang” adalah draf pesan yang paling ingin dikirimkan ke rumah kalau saja pegang HP.

Minggu Sambangan: Saat Nasi Kotak Bawaan Ibu Terasa Seperti Makanan Surga

Masuk bulan pertama, situasi mulai mencair. Momen yang paling ditunggu-tunggu pun tiba: Hari Sambangan.

Ketika mobil atau motor orang tua kelihatan parkir di halaman pondok, rasanya seperti melihat pahlawan super datang. Bapak yang biasanya irit bicara tiba-tiba tersenyum lebar, dan Ibu datang membawa rantang atau kotak makanan berisi lauk favorit yang sudah diidam-idamkan sejak tiga minggu lalu.

Di momen inilah ajaibnya pesantren bekerja. Makan rendang atau ayam goreng buatan ibu di gazebo pondok rasanya seribu kali lebih nikmat dibanding makan di restoran bintang lima. Bukan cuma soal rasa, tapi ada bumbu kerinduan dan doa yang ikut tertelan di setiap suapannya.

Pelan-Pelan Menjadi Dewasa: Dari Manja Jadi Mandiri

Seiring berjalannya waktu, santri mulai sadar satu hal: ternyata jauh dari orang tua tidak semenakutkan itu.

Anak yang dulunya kalau baju kotor tinggal lempar ke keranjang, sekarang sudah terampil mengucek baju sendiri. Anak yang dulunya bangun tidur harus diomeli tiga kali, sekarang sudah otomatis bangun jam 4 pagi tanpa perlu disiram air.

“LDR” ini mengajarkan hal paling mendasar dalam hidup: mencintai orang tua dengan cara tidak lagi merepotkan mereka. Santri belajar memilah mana masalah yang harus diselesaikan sendiri, dan mana yang cukup diceritakan sambil tersenyum saat sambangan.

Pada akhirnya, mondok itu bukan soal “dibuang” atau “dijauhkan” dari keluarga. Mondok adalah jeda agar kita paham betapa berharganya setiap detik yang kita habiskan bersama orang tua. Kalau kata santri senior: “Cara terbaik merindukan rumah adalah dengan tidak menjadi beban saat nanti kita pulang ke rumah.”

Jadi, buat adik-adik atau wali santri yang masih sering menangis di minggu-minggu awal: tenang saja, itu bukan tanda tidak betah. Itu cuma proses tumbuh dewasa yang dikemas dalam balutan rindu.

+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

MENGENAL PENULIS
R Dipadilaga

R Dipadilaga

Penulis

Penulis aktif di Kanal Santri yang berfokus pada kajian Islam, pendidikan, pesantren, dan pengembangan literasi umat.

7 Artikel Bergabung sejak Juli 2025
Lihat Semua Artikel
Bagikan: