Ada satu hari dalam seminggu di mana halaman MA Diponegoro mendadak berubah jadi catwalk dadakan. Hari Kamis. Hari di mana aturan seragam pramuka atau putih-abu-abu diistirahatkan sejenak, digantikan oleh barisan kain bercorak dari berbagai penjuru Nusantara: batik.
Tapi janganlah membayangkan anak-anak madrasah ini bergaya bak model fashion week yang jalan dengan muka lempeng. Sebelum bergaya dengan baju batik andalan masing-masing, ritual wajib tetap dilaksanakan: Istighotsah.
Tawassul Dulu, OOTD Kemudian
Pagi di MA Diponegoro selalu punya ritme yang khas. Sebelum otak disiksa dengan rumus matematika, hafalan bait nadhom, atau teori ekonomi, hati diisi bensin dulu lewat Istighotsah Rutin. Halaman madrasah yang biasanya ramai bercanda mendadak syahdu oleh lantuan doa. Niat dirapikan, kepala ditundukkan.
BACA JUGA
Nah, yang bikin pemandangan pagi Kamis ini makin estetik adalah visual santri-santrinya.
Kalau di sekolah umum hari Kamis mungkin cuma beda warna kemeja, di sini variasi batiknya luar biasa. Ada yang pakai batik Parang klasik hadiah dari simbahnya, ada yang pakai batik motif modern belian toko online, sampai batik yang ukurannya agak kedodoran karena pinjam punya kakak kelas.
Uniknya, keberagaman motif itu tidak bikin barisan Istighotsah kelihatan berantakan. Beda corak, beda warna, tapi begitu berdiri bersama atau duduk bersilak menggelar sajadah dan melantunkan doa yang sama, semuanya lebur. Tidak ada batiknya yang paling mahal atau paling keren, sebab di hadapan Gusti Allah, yang dinilai tetap kadar ketakwaan (dan mungkin seberapa khusyuk doanya saat minta nilai ujian bagus).
Beda Motif, Tetap Satu Shaf
Dari selembar kain batik yang dipakai anak-anak MA Diponegoro pagi ini, kita sebenarnya sedang diajari filosofi hidup yang lumayan dalam tanpa perlu kerut dahi.
Batik itu indah bukan karena warnanya cuma satu. Batik jadi mahakarya justru karena ada perpaduan garis, titik, lekukan, dan warna yang saling menimpa tapi tidak saling merusak.
Sama seperti kehidupan santri di madrasah. Ada yang pendiam, ada yang super aktif sampai guru geleng-geleng kepala, ada yang jago qiroah, dan ada yang lebih jago nambah porsi makan di kantin. Bebas bergaya, tapi tetap berbudaya. Beda karakter, tapi berada dalam satu langkah yang sama: menuntut ilmu dan menjaga akhlak.
Kamis Batik di MA Diponegoro akhirnya bukan cuma soal mengganti kostum harian, tapi cara sederhana merayakan identitas. Istighotsah untuk menata hati agar tidak gampang goyah, batik untuk mengingatkan akar budaya agar tidak lupa diri, dan harmoni untuk memastikan tak ada yang merasa paling menonjol di antara yang lain.
Sebab pada akhirnya, menjadi beda itu biasa. Tapi bisa berdiri atau duduk bersama dalam satu shaf yang rapi dengan segala perbedaan itu? Barulah luar biasa.
