Di tengah deru zaman yang kian bergerak cepat, di mana lini masa media sosial kerap dijejali oleh hal-hal artifisial, ada satu ritme kehidupan yang tidak pernah kehilangan detaknya: denyut keikhlasan di pesantren. Ketika sore mulai merayap dan bayangan pepohonan Pondok Pesantren Minggir memanjang pada Senin, 19 Oktober 2026, sebuah pemandangan hangat tersaji di ruang-ruang koordinasi. Para pengurus dan panitia duduk bersanding, merajut asa demi sebuah hajatan besar kaum santri.
Rapat sore itu terasa istimewa. Dipimpin langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Sleman, Dr H Ariyanto Nugroho, konsolidasi ini bukan sekadar bicara tentang suksesnya acara seremonial. Di baliknya, terselip sebuah niat batin yang sarat nilai spiritual: merawat ingatan dan menagih keteladanan dari para pejuang serta masyayikh yang telah meletakkan batu pertama peradaban umat di bumi Sleman.
Menghidupkan Ruh Perjuangan Para Pendahulu
Hari Santri Nasional bukan sekadar seremonial tahunan yang lewat begitu saja. Ia adalah cermin besar tempat kita berkaca, sejauh mana kita hari ini mampu menjaga amanah para ulama.
BACA JUGA
Dalam arahannya, Dr H Ariyanto Nugroho mengingatkan bahwa rangkaian peringatan HSN 2026 ini dirancang tidak hanya meriah di luar, tetapi juga kaya secara batiniah. Puncak acara yang diisi dengan Tahlil Akbar dan doa bersama menjadi medium sakral untuk menyambungkan kembali sanad rohani kita kepada para masyayikh pendahulu. Mereka yang berdarah-darah membimbing umat, mengajarkan alif-ba-ta di surau-surau kecil, dan menanamkan cinta tanah air tanpa pamrih.

Ketika nama-nama mereka disebut dalam gema tahlil yang bergemuruh di Pondok Pesantren Minggir nanti, di situlah titik nadir kesadaran kita diuji: apakah kita sudah cukup layak meneruskan estafet perjuangan mereka?
Syiar yang Membumi dan Berpihak pada Umat
Perjuangan para masyayikh tentu tidak berhenti di ruang-ruang dzikir. Ia harus mengejawantah ke dalam kerja-kerja keumatan yang nyata. Itulah sebabnya, syiar HSN di Kabupaten Sleman tahun ini dirangkai dengan aksi yang langsung menyentuh denyut nadi masyarakat kecil.
Jalan-jalan di berbagai wilayah mulai disemarakkan dengan berkibarnya bendera NU dan umbul-umbul, menandakan bahwa denyut kegembiraan menyambut Hari Santri dirasakan oleh setiap pasang mata yang melintas. Namun, syiar tidak berhenti pada estetika visual semata.
Kolaborasi apik yang diinisiasi melalui bazar paket belanja murah bahan pokok NUSHOP—sebuah sinergi bernas antara LAZISNU Sleman dan LPNU Sleman—menjadi bukti bahwa Nahdlatul Ulama selalu hadir menjawab kegelisahan umat. Di tengah dinamika ekonomi hari ini, kehadiran paket sembako murah adalah bentuk nyata dari risalah Islam rahmatan lil ‘alamin. Bahwa dakwah Islamiyah tidak bisa dilepaskan dari dakwah iqtishadiah (ekonomi) yang membela kaum dhuafa.
Merawat Jagat, Membangun Peradaban
Apa yang dilakukan oleh PCNU Sleman, MWC NU Minggir, dan seluruh panitia lokal sore itu mengingatkan kita pada sebuah adagium klasik: al-muhafadlah ala qadimis salih wal akhdzu bil jadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).
Doa-doa yang dipanjatkan untuk para masyayikh adalah bentuk penjagaan atas tradisi luhur, sementara bazar murah dan pengorganisasian modern adalah ikhtiar adaptif menjawab tantangan zaman. Keduanya berjalin inai dalam satu bingkai besar: merawat jagat, membangun peradaban.
Ketika kelak Tahlil Akbar dilantunkan, bendera-bendera berkibar di sepanjang jalan, dan senyum warga sumringah membawa pulang paket belanja murah dari NUSHOP, kita tahu persis bahwa ruh para masyayikh sedang tersenyum lebar di alam sana. Estafet itu masih menyala, dan api kebaikan itu tidak akan pernah padam. *rdp
