Home » Kanker Epistemologi: Saat “Sistem Sempurna” Membuat Kita Menghakimi Kiai

Kanker Epistemologi: Saat “Sistem Sempurna” Membuat Kita Menghakimi Kiai

No comments

Malam itu, di ruang pengurus madrasah, secangkir kopi hitam sudah lama dingin. Di hadapan saya, Kang Hasan—sebut saja begitu—menutup sebuah map tebal berwarna merah dengan wajah kusut. Ia baru saja kembali dari ndalem Kiai, dan napasnya terdengar berat.

“Aku kadang nggak paham jalan pikiran Kiai,” keluhnya, memecah keheningan diiringi suara jangkrik dari luar jendela. “Beliau itu plin-plan atau bagaimana, ya?”

Saya terdiam, membiarkannya menumpahkan unek-unek.

Kang Hasan adalah sosok cerdas dan idealis. Enam bulan terakhir, ia kurang tidur demi menyusun draf masterplan Kurikulum Madrasah Diniyah. Rancangannya luar biasa rapi. Ia mengadopsi sistem pesantren salaf-salaf besar: fokus penuh pada penguasaan Fathul Mu’in, Alfiyah Ibnu Malik, dan hafalan Al-Quran. Draf itu bahkan sudah dipresentasikan ke beberapa Gus (putra Kiai) dan ustadz senior, dan semuanya mengangguk setuju. “Ini baru pondasi ulama sungguhan,” puji mereka saat itu.

Namun, kejutan terjadi malam ini. Di tengah persiapan tahun ajaran baru, Kiai tiba-tiba memanggil Kang Hasan. Tanpa banyak argumen akademis, Kiai mencoret jadwal untuk santri kelas 12 Aliyah.

“Khusus kelas 12, jam ngaji kitab malam dan ba’da Subuh dikurangi separuh. Anak-anak biarkan ikut bimbel dan tryout persiapan UTBK. Mereka harus banyak yang masuk perguruan tinggi negeri,” dawuh Kiai singkat.

Bagi Kang Hasan, titah itu ibarat petir. “Sistem yang saya bangun susah-susah jadi berantakan. Ini kan pondok pesantren, pabriknya ulama! Kenapa Kiai malah menyuruh santrinya sibuk ngejar dunia, ngejar kampus? Kalau begini, apa bedanya kita dengan sekolah umum?” gerutunya malam itu, raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.

Penyakit di Balik Idealisme

Sekilas, protes Kang Hasan terdengar sangat rasional dan relijius. Ia membela ilmu agama. Ia membela kitab kuning. Tapi di mata tradisi keilmuan pesantren yang lebih dalam, malam itu Kang Hasan sedang terjangkit gejala awal sebuah penyakit mematikan: Kanker Epistemologi.

Dalam dunia medis, kanker bukanlah virus yang datang dari luar. Ia adalah sel sehat di dalam tubuh kita sendiri yang tiba-tiba memberontak, membelah diri, dan merasa dirinya paling berhak hidup, hingga akhirnya merusak organ-organ di sekitarnya.

Niat Kang Hasan menjaga kemurnian kurikulum salaf adalah “sel sehat”. Ilmunya benar. Namun malangnya, ilmu dan idealismenya itu kehilangan sistem kontrol, yakni tawadhu’ (kerendahan hati) dan husnudzon (berbaik sangka) kepada sang Guru.

Kanker epistemologi bekerja dengan sangat halus. Ia membuat seorang murid merasa logikanya sudah paling sempurna. Ketika kebijaksanaan Kiai tidak masuk ke dalam kotak logikanya, sang murid dengan mudah melabeli gurunya “plin-plan”, “ketinggalan zaman”, atau “tidak konsisten”. Sang murid mendewakan sistem yang ia buat di atas selembar kertas, namun buta terhadap bashirah (mata batin) seorang Kiai yang melihat jauh ke ujung cakrawala.

Iblis, di masa lalu, juga mengidap kanker yang sama. Iblis punya “sistem” dan logika yang menurutnya paling benar: Api itu lebih mulia dari tanah. Maka ketika Tuhan membuat kebijakan agar ia sujud pada Adam (yang terbuat dari tanah), Iblis protes. Ia merasa “kurikulum” penciptaan versinya lebih masuk akal daripada ketetapan Tuhannya.

Melihat Lewat Kacamata Kiai

Beberapa hari setelah malam yang tegang itu, saya berkesempatan sowan menghadap Kiai untuk urusan administrasi. Terdorong rasa penasaran, saya memberanikan diri bertanya dengan sangat hati-hati soal kebijakan UTBK tersebut.

Kiai yang sedang mengelap kacamata bacanya itu tersenyum simpul.

“Le,” panggil beliau lembut. “Umat ini kan luas. Musuhnya juga makin pintar. Kalau semua santri di pondok ini kita cetak jadi Kiai yang cuma bisa baca kitab di surau, lalu siapa yang nanti menjaga umat di rumah sakit? Siapa yang menjaga kebijakan umat di gedung pemerintahan? Siapa yang bikin teknologi buat umat?”

Beliau menatap ke luar jendela, melihat deretan asrama santri yang mulai sepi.

“Biarkan anak kelas 12 itu berjuang masuk universitas. Bekal ngaji mereka dari kelas 7 sampai 11 itu sudah lebih dari cukup untuk jadi pondasi tauhid dan akhlak. Pesantren ini tidak sedang mencetak sarjana umum, tapi kita sedang mengirim santri-santri kita untuk mewarnai kampus-kampus itu. Hasan itu anak pintar, sistemnya bagus, tapi dia lupa kalau hidup ini tidak sehitam-putih kertas kerjanya.”

Mendengar itu, ada rasa sejuk yang aneh merayap di dada saya, sekaligus tamparan keras untuk kami yang muda-muda ini.

Seringkali, kita merasa lebih pintar hanya karena menguasai teori manajemen pendidikan atau berhasil menyusun kurikulum yang ideal. Kita lupa bahwa Kiai memimpin tidak hanya dengan rasio, tapi dengan ketajaman intuisi dan doa di sepertiga malam.

Sebuah sistem pendidikan, sehebat apapun ia dirancang, tidak akan pernah menghasilkan apa-apa tanpa adanya keberkahan. Dan di pesantren, pintu gerbang utama menuju keberkahan itu bernama prasangka baik dan ketaatan kepada Kiai.

Malam harinya, saya ceritakan wejangan itu kepada Kang Hasan. Matanya berkaca-kaca. Map merah berisi “sistem sempurna”-nya tak lagi ia pandang dengan angkuh. Ia sadar, gelar dan kepintarannya hampir saja membunuh adabnya.

Besok paginya, saya melihat Kang Hasan antre di teras ndalem. Bukan untuk mendebat kurikulum, tapi sekadar menunggu Kiai keluar, menundukkan kepala, dan mencium tangan gurunya dalam-dalam.*afk

(Catatan Penulis: Kisah “Kang Hasan” di atas anggap saja sebagai ilustrasi fiktif belaka. Kalaupun ada kesamaan nama, tempat, alur cerita, atau kebetulan pesantren Anda sedang mengalami hal serupa… percayalah, itu bukan sekadar kebetulan. Karena kejadian semacam ini memang sangat nyata, sering terjadi, dan kebetulan saya menyaksikannya sendiri sambil pura-pura sibuk mengaduk kopi yang sudah dingin).

+1
0
+1
0
+1
0
+1
1
+1
1
+1
0
+1
0

Bagikan artikel ini

Leave a Comment