Setiap kali Ramadhan tiba, pemandangan di pasar, supermarket, hingga lapak pinggir jalan seketika berubah. Kurma menjadi primadona. Dari kurma curah hingga kurma premium berlapis cokelat, semuanya laris manis. Alasannya sederhana dan sangat mulia: berbuka dengan kurma adalah sunnah Nabi.
Namun, pernahkah kita merenung sejenak sembari mengunyah kurma tersebut; jika kurma memang sebegitu suci dan utamanya, mengapa Tuhan tidak menumbuhkannya di seluruh belahan bumi? Mengapa di Nusantara yang tanahnya subur bak surga ini, pohon kurma justru sulit berbuah lebat? Apakah Tuhan pilih kasih dalam menebarkan fasilitas sunnah-Nya?
Tentu saja tidak. Tuhan Maha Adil, dan Islam adalah agama yang sangat masuk akal (shalih likulli zaman wal makan).
Kita perlu membaca sejarah dan geografi dengan kacamata yang jernih. Kurma adalah buah yang paling logis dan rasional untuk tumbuh di Jazirah Arab. Di padang pasir yang panas, kering, dan minim air, manusia butuh asupan energi instan yang bisa disimpan lama tanpa cepat busuk. Kandungan fruktosa pada kurma adalah “bensin” paling cepat untuk memulihkan energi yang terkuras setelah seharian menahan lapar dan haus di bawah terik matahari gurun.
Itulah alasan rasional mengapa Kanjeng Nabi Muhammad SAW berbuka dengan kurma (rutab/tamr). Beliau mengonsumsinya bukan semata-mata karena kurma itu diturunkan dari langit sebagai “buah suci”, melainkan karena itulah anugerah alam terbaik dan paling mudah diakses di tempat beliau hidup saat itu.
Terjebak “Casing” Kearaban
Masalah mulai muncul ketika Islam menyebar ke luar Jazirah Arab, melintasi benua dan budaya. Banyak dari kita yang tanpa sadar mengidap bias: mengira bahwa semakin “Arab” sesuatu, maka ia semakin “Islami”. Agama yang sejatinya adalah laku batin dan rahmat moral, perlahan direduksi menjadi sekadar urusan casing, pakaian, dan atribut geografis.
Akibatnya, di negeri kita yang dilimpahi pisang manis, air kelapa muda yang menyegarkan, hingga singkong dan ubi-ubian yang mengenyangkan, kita kerap merasa kurang afdal dan kurang “nyunnah” kalau belum mengunyah kurma impor dari Timur Tengah.
Bukan berarti makan kurma itu salah atau tidak berpahala. Jika diniatkan untuk ittiba’ (mengikuti) Nabi karena kecintaan kepada beliau, tentu ada pahala di sana. Namun, yang keliru adalah ketika kita meremehkan buah-buahan lokal anugerah Allah di tanah kita sendiri, seolah-olah mereka tidak punya “derajat” yang sama di hadapan syariat.
Padahal, jika kita mau menggali lebih dalam, yang diwariskan oleh Rasulullah SAW mungkin bukan semata-mata jenis buahnya, melainkan akal sehat dan hikmahnya. Sunnah berbuka puasa adalah menyegerakan berbuka dengan sesuatu yang manis dan mudah dicerna untuk mengembalikan energi.
Jika Kanjeng Nabi diutus di Nusantara, sangat mungkin beliau akan berbuka dengan segelas air kelapa muda atau pisang rebus. Sayangnya, belakangan ini kita lebih suka menduplikasi bentuk fisiknya ketimbang menangkap hikmahnya.
Puasa Fisik vs Puasa Batin
Kerancuan kita dalam membedakan mana “bentuk” dan mana “esensi” ini tidak hanya terjadi pada urusan menu buka puasa, tetapi merembet pada cara kita menjalankan puasa itu sendiri.
Sering kali, yang kita tiru mati-matian dari ibadah puasa hanyalah kerja fisiknya saja: perut yang melilit karena lapar, kerongkongan yang kering karena haus, dan wajah yang ditekuk karena lemas. Kita merasa sudah berpuasa secara sempurna karena berhasil menyiksa fisik dari Subuh hingga Maghrib.
Kita lupa bahwa lapar dan haus hanyalah “casing” dari puasa. Esensi atau kerja batin yang dituju dari puasa adalah la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa)—sebuah pencapaian kebijaksanaan, empati kepada kaum miskin, pengendalian amarah, dan kejernihan hati.
Sama seperti kita yang hanya melihat kurmanya tapi lupa pada pesan kesehatan di baliknya, dalam puasa pun kita sering kali hanya sibuk menahan lapar, namun lisan tetap tajam menyakiti orang lain, dan hati tetap penuh kedengkian.
Di sisa bulan suci ini, mari kita naik kelas. Mari beragama dengan esensi, bukan sekadar basa-basi. Nikmatilah kurma Anda jika ada, tapi jangan lupa bersyukur atas pisang, kolak, dan air kelapa di meja makan. Karena yang dinilai oleh Tuhan bukanlah seberapa Arab hidangan buka puasa kita, melainkan seberapa bersih hati dan seberapa tajam akal sehat kita dalam menangkap pesan-pesan cinta-Nya.*rdp
Wallahu a’lam bish-shawab.
